Kamis, 16 Februari 2012

First Love

Diposting oleh INSYYYYY di 21.35 0 komentar
everyone can see
there's change in me
they all say i'm not the same
kid i use to be

don't go out and play
i just dream all day
they don't know what's wrong with me
and i'm too shy to say

it's my first love
what i'm dreaming on
when i go to bed
when i lay my head upon my pillow
don't know what to do

my first love
he think's that i'm too young
he doesn't even know
wish that i could him what i'm feeling
cause i'm feeling my first love

mirror on the wall
does he care at all
does he ever notice me
does he ever found

tell me teddy bear
my love is so unfair
will i ever found away
and answer to my pray
for my first love...

Senin, 13 Februari 2012

Kisah Istri Nabi Luth Menempuh Jalan Kesesatan

Diposting oleh INSYYYYY di 20.42 0 komentar
Kisah ini adalah kisah yang udah dari dulu bikin gue penasaran. setiap gue baca terjemahan Al-Qur'an, gue sering banget baca kisah kisah nabi disana, dan yang paling bikin gue penasaran itu tentang istrinya nabi luth. kenapa gue penasarannya sama istri nabi luth ? sedangkan istri nabi nuh juga durhaka? karena kalo di Al-Qur'an itu udah dijelasin kenapa istrinya nabi nuh durhaka, nah sedangkan tentang istrinya nabi luth ngga dijelasin sama sekali, itu yang bikin gue penasaran. tiap ngaji gue getol banget nyari tentang istrinya nabi luth sampe khatam, tapi apa daya ngga ketemu juga, akhirnya barusan nih, tadi, gue sms murabbi gue, ka ike namanya, gue nanya ke beliau tapi tak kunjung dibalas. saat melihat kompi gue nan cantik ini, tiba tiba terlintas difikiran, kenapa ngga nanya sama si mbah gugel aja? akhirnya gue browsing, dan rasa penasaran gue pun terjawab sudah, mau tau juga? let's check it out !

Nabi Luth diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kaumnya itu, termasuk kepada isterinya sendiri. Berkata Nabi Luth kepada mereka seraya mengingatkan: “Mengapa kamu melakukan perbuatan tercela itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun di dunia ini sebelummu? Kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada wanita. Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 80-81) 

Memang, kaum Nabi Luth ketika itu berada pada tingkat kebinatangan yang paling rendah, kebejatan akhlak yang paling parah, dan tidak ada manusia seburuk mereka sebelumnya. Mendengar seruan Nabi Luth, seruan seorang nabi Allah yang juga pernah didengar oleh kaum-kaum lain sebelum mereka, rakyat Negeri Sadom merasa terusik kesenangannya. Mereka tidak tinggal diam setelah mendengar seruan kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Luth. Mereka terus berfikir, mencari jalan bagaimana agar Nabi Luth tidak dapat mengumandangkan seruannya kembali. Ketika, mereka tengah duduk berfikir, tiba-tiba datang seorang perempuan tua menghampiri mereka. Sebenarnya, sudah lama perempuan tua itu mendengar rencana kaum Luth itu, dan ia tersenyum bangga mendengar rencana itu. 
“Akan kutunjukkan kepada kalian, suatu lubang yang dapat menghalangi seruan Luth,” ujar perempuan tua itu dengan wajah penuh keyakinan. 
“Lubang yang mana itu?” tanya mereka dengan keinginan yang penuh harap. 
“Tidak akan kukatakan hal itu, kecuali aku mendapat sekeping perak sebagai upahnya,” sahut si perempuan tua. 
Tak seorangpun dari keturunan kaum Luth itu yang merasa marah atau hairan mendengar ucapan perempuan tua yang terkenal mata duitan dan sifat halobanya itu. Salah seorang dari mereka memasukkan tangannya ke dalam poketnya; kemudian mengambil sekeping perak dan diberikannya kepada perempuan tua itu. Dengan senyum kemenangan, perempuan tua itu cepat mengambil dan menyembunyikan kepingan perak itu di dadanya. 
“Kalian dapat membatalkan seruan Luth melalui isterinya!” Kata perempuan itu kemudian. 
Terbelalaklah mata kaum Luth ketika mendengar ucapan itu. Mereka semakin mendekatkan telinga masing-masing ke mulut perempuan penipu itu dengan penuh harapan. 
“Bagaimana caranya?” Tanya mereka serentak. 
“Kalian harus bekerjasama dengan isteri Luth untuk menghentikan seruannya kepada kalian.” 
Dengan kesal, salah seorang dari mereka berteriak. “Kami tidak ada urusan dengan isteri Luth!” 
Dengan wajah marah, perempuan tua itu kembali berkata: “Aku lebih mengerti hal itu daripada kalian!” 
“Kalau begitu,” sela salah seorang yang lain. “Apa peranan isteri Luth dalam hal ini?” 
“Dengar baik-baik. Peranan isteri Luth sama seperti perananku bagi kalian sekarang ini,” jawabnya. 
“Jadi, apakah kamu berharap agar isteri Luth dapat menunjuki kami, siapa orang-orang yang dapat memenuhi keinginan kami, sebagaimana yang engkau lakukan kini?” tanya salah seorang dari mereka. 
Dengan kedua mata yang bersinar, disertai kegembiraan haiwani, perempuan tua berlalu sambil bergumam, “Ya... ya...”

Isteri Nabi Luth sedang menyelesaikan sebahagian pekerjaannya ketika terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Segera ia berlari, membukakan pintu. Dan seorang perempuan tua tiba-tiba berada di hadapannya. Dengan tergopoh-gapah perempuan tua itu lalu berkata: “Hai, anakku, adakah seteguk air yang dapat menghilangkan dahaga yang kurasakan ini?” 
“Silakan masuk dahulu,” jawab Wa’ilah, isteri Nabi Luth, dengan lembut.” Akan kuambilkan air untukmu.” 
Perempuan tua itu kemudian duduk menunggu, sementara Wa’ilah masuk ke dapurnya. Tak lama kemudian, Wa’ilah kembali dengan membawa bekas yang penuh berisi air untuk tamunya itu. Dengan lahap, si perempuan tua segera meneguk habis air di bekas tersebut, dan kemudian melepas nafas dengan lega. 
“Kami hidup bersama suamiku, Luth namanya, dan dua anak perempuanku,” jawab Wa’ilah. 
Perempuan itu kemudian memalingkan wajahnya ke sekeliling rumah yang kecil itu, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan prihatin akan apa yang dilihatnya. Dengan wajah yang memperlihatkan kesedihan, perempuan tua itu berkata: “Aduhai, apakah kesengsaraan menimpamu, Anakku?” 
“Aku tidak sengsara, bahkan rumah ini cukup bagi kami, dan aku mempunyai suami yang memberiku makan dan minum bersama kedua puteriku,” jawab Wa’ilah. 
Perempuan tua penipu itu lebih mendekat kepada isteri Nabi Luth sambil berkata: “Dapatkah ruangan seperti ini disebut rumah? Dapatkah yang engkau teguk dan engkau rasakan ini disebut makanan atau minuman?” 

Wa’ilah terpegun mendengar ucapan perempuan tuan itu. Dengan penuh kehairanan, ia kemudian bertanya. “Kalau begitu, apa yang selama ini kumakan dan kuminum?” 
Cepat-cepat perempuan tua itu berkata: “Panggillah aku dengan sebutan ibu. Bukankah kedudukanku seperti ibu saudaramu?” Kemudian ia menyambung lagi. “Sesungguhnya semua ini adalah kemiskinan dan kesengsaraan hidup yang membawa kemalangan bagimu, hai anakku. Mengapa kamu tidak masuk ke rumah orang-orang kaya di antara kaummu. Tidakkah kamu melihat kehidupan mereka yang penuh kemegahan, kesenangan, dan kenikmatan...? Kamu berparas cantik, hai anakku. Tidak layak kamu membiarkan kecantikanmu itu dalam kemiskinan hina begini. Tidakkah kamu sedari bahawa kamu tidak mempunyai anak lelaki yang dapat bekerja untuk memberimu makan kelak apabila suamimu meninggal dunia?” 
Wa’ilah, isteri Nabi Luth, mendengarkan dengan saksama semua ucapan perempuan tua itu. Ya, ucapan itu telah membuatnya terlena sambil merenung atap rumahnya. Sesekali ia perhatikan perempuan tua yang semakin mengeraskan suaranya yang penuh nada kesedihan dan kedukaan. Dalam lamunannya itu, tiba-tiba Wa’ilah merasakan pelukan perempuan tua itu di bahunya. 
Ketika perempuan tua itu menghentikan pembicaraannya, isteri Nabi Luth memandang kepadanya sambil berusaha meneliti kalimat-kalimat yang baru didengarnya. Tetapi si perempuan tua tidak memberinya kesempatan untuk berfikir, bahkan ia mulai menyambung pembicaraannya dengan berkata: “Hai, anakku, apakah yang dikerjakan suamimu? Bagaimana hubungannya dengan penduduk Negeri Sadom dan kampung-kampung kecil di sekelilingnya? 
Sesungguhnya orang-orang di sini menginginkan sesuatu yang dapat menyenangkan hati mereka sesuai dengan yang mereka kehendaki. Dan sesuatu yang dicarinya itu dapat menjadi sumber penghasilan dan kekayaan bagi orang yang mahu membantu mereka. Lihatlah! Lihatlah, hai anakku, kepingan-kepingan emas dan perak ini! Sesungguhnya emas dan perak bagiku adalah barang yang mudah kuperolehi. Aku menunjukkan kepada kaumku beberapa lelaki berwajah ‘cantik’ yang datang dari kota. Sedangkan kamu... di rumahmu sering datang beberapa pemuda dan remaja lelaki kepada suamimu. 
Ya, suamimu yang seruannya diperolok-olok oleh kaum kita. Pekerjaan semacam ini sebenarnya tidak memberatkan kamu. Suruhlah salah seorang puterimu menemui sekelompok kaum kita dan memberitahu mereka akan adanya lelaki tampan di rumahmu. Dengan demikian, engkau akan memperoleh emas atau perak sebagai hadiahnya setiap kali engkau kerjakan itu. Bukankah pekerjaan itu amat mudah bagimu? Dengan itu, engkau bersama puteri-puterimu dapat merasakan kenikmatan sesuai dengan apa yang kalian kehendaki.” 
Sambil mengakhiri ucapannya, perempuan tua itu meletakkan dua keping perak di tangan Wa’ilah, dan kemudian segera keluar. Isteri Nabi Luth duduk sambil merenungkan peristiwa yang baru terjadi itu tentang keadaan pekerjaan yang dicadangkan oleh si perempuan tuan. Dan... ia kebingungan sambil berputar-putar di sekitar rumahnya. Suara perempuan tua itu masih terngiang-ngiang di telinganya, sementara di tangannya terselit dua keping perak. Wa’ilah dibayangi keraguan apakah sebaiknya ia terima saja saranan perempuan tua itu. Tetapi, apa yang akan dikatakan orang nanti tentang dirinya jika hal itu ia lakukan; bahawa isteri seorang yang mengaku sebagai Rasul Allah dan menyerukan kebajikan, ternyata, menolong kaumnya dalam melakukan kebatilan. 
Tiba-tiba datang suara yang membisikkan ke telinganya: “Perempuan tua itu telah menasihatimu. Ia tidak mengharapkan sesuatu kecuali kebaikan dan kebahagiaan bagimu. Kamu tidak bertanggungjawab atas apa yang dilakukan oleh kaummu. Dan lagi pekerjaan yang dicadangkan perempuan tua itu sama sekali tidak memberatkanmu. Kamu hanya memberitahu mereka tentang kedatangan tamu-tamu suamimu, Luth. Lekaslah... lekaslah... nanti akan kukatakan... lekas, supaya engkau memperoleh kekayaan dan kenikmatan... Cepatlah...!” 
Dan tiba-tiba, tanpa ragu-ragu, Wa’ilah berkata: “Baiklah, kuterima...” 
“Kalau begitu, selamat kuucapkan kepadamu,” demikian Iblis membisikkan kepadanya.” Sesudah ini engkau akan merasakan kenikmatan di dalam kehidupanmu...” 
Nabi Luth kembali kepada penduduk desa yang berada di sekitar Sadom untuk menyerukan kebenaran Ilahi sesuai dengan perintah Allah kepadanya. “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan tercela itu, yang belum pernah diperbuat oleh seorangpun di dunia ini sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian bukan kepada wanita, bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.” 
Perlawanan penduduk Sadom terhadap dakwah kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Luth kepada mereka membuat kesedihan dan kedukaan di hati Nabi Luth sendiri. Betapa kaumnya tidak mahu menerima kebenaran dan tidak menghendaki diri mereka bersih dari perangai yang hina dan merosakkan itu. 
Hari demi hari berlalu. Setiap isteri Nabi Luth melihat beberapa lelaki datang ke rumahnya, ia segera memberi tahu kaumnya tentang hal itu dan setiap kali berita yang dibawanya sampai kepada kaumnya si perempuan tua datang kepadanya dengan membawa sepotong perak seraya berkata: “Jika engkau selalu menolong kami, nescaya engkau akan dapatkan terus sekeping perak, sementara suamimu tidak dapat menyeru kepadanya.” Wajah perempuan tua itu tertawa seperti tawa syaitan, kemudian pergi... 
Sementara itu, seruan Nabi Luth kepada kaumnya tidak menambah apa-apa kecuali perlawanan dan kesombongan. Mereka tetap selalu berpaling dari ajakan suci itu. Bahkan mereka terus-menerus melakukan perbuatan keji tatkala Nabi Luth memperingatkan akan datangnya seksa Allah atas mereka apabila mereka tidak mahu berhenti dari kesesatannya. Mereka malah menentang Nabi Luth dengan berkata: “Datangkanlah kepada kami azab dari Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Maka, Nabi Luth pun memohon kepada Allah, agar Allah menolongnya dari kaumnya. 
Nabi Luth berdoa: “Ya, Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerosakan itu.” (Al-Ankabut: 30)

Allah memperkenankan doa Nabi Luth as, dan mengutus Jibril as. untuk membinasakan mereka. Jibril datang ke Negeri Sadom dengan menyerupai dua orang lelaki yang tampan. “Dia (Luth) merasa susah dan sempit dadanya kerana kedatangan mereka. Dan ia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.” (Hud: 77)

Nabi Luth as. cemas memikirkan apa yang bakal diperbuat kaumnya jika mereka mengetahui kedatangan tamu lelaki yang berwajah ‘cantik’ di rumahnya. Bagaimana ia dapat mempertahankan dan memelihara mereka dari kemungkaran kaumnya? Ah, bukankah tidak ada yang mengetahui kedatangan mereka, kecuali dia sendiri, dan kedua puterinya? 
Sebaliknya kedatangan kedua tamu Nabi Luth itu merupakan kesempatan bagi isterinya untuk menambah kepingan-kepingan perak yang biasa ia perolehi dari si wanita tua. Sekarang, ia harus mengutus seseorang kepada kaumnya untuk memberitahu mereka. Tetapi kedua puterinya sedang sibuk menyiapkan hidangan bagi kedua tamu ayahnya, atas perintah Nabi Luth. Kerana keinginannya yang mendesak, isteri Luth akhirnya memberi isyarat kepada salah seorang puterinya untuk mendekat. Kemudian ia membiisikkan beberapa kalimat ke telinga anak perempuannya itu. Sesaat kemudian, sang puteri segera keluar rumah untuk memberitahu kaumnya, sebagaimana biasa.

Di tengah-tengah kerumunan orang ramai anak Nabi Luth melihat seorang perempuan tua melambaikan tangan sambil mengisyaratkan panggilan kepadanya. Segera ia mendekati perempuan itu dan memberitahu tentang dua lelaki tampan yang datang ke rumahnya. Perempuan tua itu kemudian menyuruh ia cepat pulang, sementara kelompok lelaki menghampiri seraya bertanya: “Apakah yang terjadi? Apakah ada berita baru?” 
Wajah si perempuan tua menampakkan senyum tipuan sambil berkata: “Kali ini tidak kurang dari empat potong emas harus kuterima.” 
Dengan bersemangat kaumnya bertanya: “Apakah yang terjadi? Apakah ada yang istimewa?” 
Perempuan itu berkata kepada mereka, sementara ia membuka matanya lebar-lebar disertai syaitan. “Kalian akan memperoleh apa yang kalian kehendaki, iaitu dua orang lelaki yang berwajah ‘tampan’. 
Dengan wajah buas dan bernafsu, mereka bertanya dengan tidak sabar. “Di mana mereka? Di mana lelaki berwajah ‘tampan’ itu? “Berikan harta kepadaku terlebih dahulu, barulah kuberi tahu kalian!” Katanya. 
Sebahagian dari mereka menyahut: “Wahai wanita tua, engkau yang tamak, tidak pernah kenyang!” Dan sebahagian yang lain berkata: “Inilah harta untukmu, tetapi cepat katakan, di mana lelaki yang berwajah ‘tampan’ itu?” 
Setelah tangannya menggenggam emas, berkatalah perempuan tua itu kepada mereka. “Mereka ada di rumah Luth...”

Hampir-hampir kaumnya tidak mendengar ucapan perempuan tua itu dengan jelas. Tetapi, sesaat kemudian, mereka berlumba-lumba untuk segera datang ke rumah Nabi Luth. Masing-masing ingin memperoleh kepuasan dari dua lelaki ‘tampan’ yang ada di rumah Luth. 
Sesampainya mereka di sana, didapati pintu rumah Nabi Luth tertutup. Segeralah mereka mengetuk keras sambil berteriak. “Bukakan, Luth bukalah pintu-pintumu! Kalau tidak, kami terpaksa akan memecahkannya!” 
Isteri Nabi Luth mencuba menemui suaminya yang ternyata telah meninggalkan kedua tamunya di dalam kamar, sementara ia sendiri mendekati pintu rumahnya yang tertutup dan memisahkan dia dengan sekumpulan kaumnya. Isteri Nabi Luth mengintai dari balik tirai. Hatinya melonjak kegirangan. Sebentar lagi ia bakal memperoleh sepotong perak dari si perempuan tua, sesuai dengan kebiasaan yang telah berlangsung selama ini. Bahkan di samping itu, tanpa diketahuinya, ia mungkin bakal memperoleh pula sepotong emas sebagai bonus.

Teriakan kaum Luth bertambah keras dan garang. Mereka tak sabar dan ingin memecah pintu agar dapat masuk dan menemui tamu-tamu Nabi Luth. Apakah yang akan dikatakan oleh Nabi Luth atas tindakan kebengisan yang diperbuat oleh naluri haiwan kaumnya yang rendah itu? Nabi Luth pun berdiri terpaku; hanya pintu yang memisahkannya dari kaum durjana itu. Sesaat kemudian, Nabi Luth berkata kepada mereka demi menenangkan keadaan: “Hai, kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu. Maka, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan namaku di hadapan tamuku. Tidak adakah di antaramu seorang yang dapat menbezakan baik dan buruk.

Ya, orang-orang yang berakal ketika itu telah dihinggapi fikiran-fikiran haiwan yang rendah, sehingga nafsu mereka sulit dibendung. Luth kemudian kembali menegaskan permohonannya kepada kaumnya itu, sedangkan isterinya mengintip tidak jauh dari situ. Nabi Luth menawarkan kepada mereka untuk mengahwini puteri-puterinya, tetapi dengan serentak mereka menjawab: “Sesungguhnya engkau telah tahu bahawa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”

Sampai di sini, dialog antara Nabi Luth dan kaumnya terputus. Nabi Luth kemudian berfikir, apakah yang akan ia lakukan jika kaumnya memecah pintu rumahnya dan masuk untuk melampiaskan nafsu syaitannya kepada dua orang tamunya. Ia berdiri kebingungan, sedangkan isterinya memandangnya dengan pandangan khianat.

Tiba-tiba tamu Nabi Luth berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu; sekali-kali mereka tidak dapat mengganggu engkau.” Kalau begitu, tamu-tamu Nabi Luth adalah utusan-utusan Allah yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Negeri Sadom yang berbuat kerosakan itu. 
Mendengar semua itu, isteri Nabi Luth merasa khuatir, kerana ia akan gagal memperoleh harta yang selalu diingininya itu. Kebatilan dan pelakunya memang tidak akan pernah kekal, dan kini seksa sedang menghampiri mereka. Berkata utusan-utusan Allah itu kepada Nabi Luth: “Bukakan pintu, dan tinggalkan kami bersama mereka!” Maka, Nabi Luth pun membuka pintu rumahnya. Isteri Nabi Luth merasa cemas tatkala melihat serombongan kaumnya menyerbu masuk dengan penuh kegilaan, dan segera menuju ke arah tamu-tamu Nabi Luth.

Ketika itulah, Jibril menunjukkan kelebihannya. Ia mengembangkan kedua sayapnya dan memukul orang-orang durjana itu. akhirnya, mata mereka, tanpa kecuali, buta seketika. Dengan berteriak kesakitan, mereka semua menghendap-hendap dan bingung, kemana mereka harus berjalan. 
Bertanyalah Nabi Luth kepada Malaikat Jibril: “Apakah kaumku akan dibinasakan saat ini juga?” Malaikat Jibril memberitahu bahawa azab akan ditimpakan kepada kaum Nabi Luth pada waktu Subuh nanti. Mendengar itu, Nabi Luth segera berfikir, bukankah waktu Subuh sudah dekat.

Jibril memerintahkan Nabi Luth agar pergi dengan membawa keluarganya pada akhir malam nanti. Semua keluarga Nabi Luth pada malam itu pergi bersamanya ke luar kota, kecuali Wa’ilah. Isterinya itu bukan lagi termasuk keluarganya yang beriman kepada risalah Allah yang dibawanya. Sebaliknya, Isteri Nabi Luth justeru telah membantu orang-orang yang berbuat kerosakan, dan ia harus menerima akibatnya. Maka, turunlah azab atas dirinya, bersama semua kaum Nabi Luth yang ingkar, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam Kitab Suci Al-Quran: “Maka, tatkala datang azab Kami, Kami balikkan (kota itu), dan Kami turunkan di atasnya hujan batu, (seperti) tanah liat dibakar bertubi-tubi. Diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” 

Sabtu, 04 Februari 2012

Maulid Nabi Muhammad SAW

Diposting oleh INSYYYYY di 09.23 0 komentar


hoaaaaaaaammmmhhh............
hari ini sesuatu banget loh bisa bangun jam segini, alhamdulillah yah
tumben tumbenan banget SMA ter-cinta ku ini ngasih libur, walaupun cuma sehari, entah kenapa semenjak kelas tiga kalo ada libur sehari itu tuh berasa berharga banget !
tentunya ngga lupa ngucapin makasih juga dong sama Nabi Muhammad SAW, karena berkat peringatan maulidnya hari ini bisa libur, dan makasih juga sama Allah karena berkat nikmatnya sampe hari ini gue masih bisa ngerasain libur, hehe



insy-farras
nindy-icha-mella


Jumat, 03 Februari 2012

Baju yang Kotor

Diposting oleh INSYYYYY di 21.13 0 komentar
baju lo udah bersih kan? :D
belum lah, harus dicuci pake air tujuh kali plus lumpur tuh
itu cuma kotor gitu doang ya sy,bukan kena liur anjing -_-

Janji Allah

Diposting oleh INSYYYYY di 15.21 0 komentar
Seorang lelaki yang soleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lazat itu, akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahawa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.

Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar meninta dihalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah ku makan ini.”Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku kerana tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah s.a.w. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka”

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Kerana itu mahukah tuan menghalalkan apa yang sudah ku makan itu?”

Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak boleh menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu kerana takut ia tidak dapat memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah kerana hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?”

Tetapi pemilik kebun itu tidak mempedulikan pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berfikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak boleh menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkahwinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya kerana aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkahwinan selesai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui isterinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berfikir akan tetap mengucapkan salam walaupun isterinya tuli dan bisu, kerana bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu”alaikum…”

Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut kerana wanita yang kini menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahawa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berfikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk di samping isterinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahawa engkau buta. Mengapa?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, kerana aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahawa engkau tuli, mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, kerana aku tidak pernah mahu mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah.

Ayahku juga mengatakan kepadamu bahawa aku bisu dan lumpuh, bukan?” Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan isterinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu kerana dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh kerana kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang boleh menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.

Tsabit amat bahagia mendapatkan isteri yang ternyata amat soleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang isterinya, “Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan isterinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikurniakan seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia, Beliau adalah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit. [ahmadriyadhmz.]

ps: dari cerita tersebut bisa kita ambil hikmah bahwa janji Allah itu benar sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an surat An-Nur (24) : 26 yang artinya " perempuan perempuan yang keji untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji untuk perempuan perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan perempuan yang baik untuk laki laki yang baik, dan laki laki yang baik untuk perempuan perempuan yang baik (pula). mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga) "

Rabu, 01 Februari 2012

Random

Diposting oleh INSYYYYY di 19.29 0 komentar
hari selasa seperti biasanya gue nf, pas di nf gue udah ngerencanain tuh kalo pulang nf nanti mau belajar fisika karena besoknya disekolah ada tes, padahal rasanya tuh udah ngantuk banget banget deh saking kemaren marennya banyak tugas yang dateline banget. bel pulang nf bunyi, gue, ajeng sama mira buru buru keluar kelas, malah kita yang pertama keluar, pengen buru buru pulang, tapi ternyata motornya ajeng belum bisa keluar, dan akhirnya gue nunggin ajeng sementara mira pulang duluan.diparkiran sambil nungguin ajeng, tiba tiba si gendut nyamperin gue
" udah baca surat ? "
" surat apaan ? "
" oh belum berarti "
terus pergi gitu aja, yaudah kan gue masih slow aja nungguin ajeng. ngga lama kemudian gendut dateng lagi tapi udah naik motor
" coba cek ditas lo ? "
" tas yang mana ? didalem sini ? "
" bukan, tas sekolah "
dan dia langsung pergi lagi.

jujur, selama dijalan gue penasaran banget. pas sampe rumah gue langsung buru buru masuk ke kamar, kunci pintu, ngubek ngubek tas sekolah gue dan keluar foto taecyeon yang gede, lebih gede dari 4R, gue gatau berapa. trus ada surat, tapi kenapa surat rumah sakit gue ? maksudnya rumah sakit tempat biasa gue kontrol. pelan pelan gue buka suratnya, yang pertama kali gue liat itu surat keterangan dari rumah sakit kalo gue dirawat dirumah sakit itu, ini maksudnya apa ? gue tambah bingung lagi, ini kan surat gue dulu waktu operasi, kenapa dikasih ke gue ? akhirnya perlahan lahan gue menuju ke surat yang dia maksud. dan entah kenapa pas baca lembar kedua itu gue nangis, lebih tepatnya pas bagian " asal lo tau, setiap pulang sekolah gue selalu lewat depan rumah lo yang lama karena disitu banyak banget kenangan kita. jujur, selama gue temenan itu lo yang paling deket, lo bukan gue anggep sebagai temen, tapi sodara " gue ngga tau kenapa gue bisa nangis, dan seumur umur ini nangis gue yang paling parah, karena muka dan mata gue tuh sampe merah banget, merah pekat kayak mau ngeluarin darah, dan sampe tadi pagi pun akhirnya gue ngerasain akibat nangis yang parah itu, pipi, tenggorokan, perut, kepala, sakit semua, dan pusingnya kayak lo belum tidur seharian.

hari ini maju fisika dan gue belum belajar sama sekali, akhirnya abis subuh gue buka lks dan ngerjain latihan soal. karena ngerasa belum cukupilmu banget, gue buru buru sms venna minta diajarin nanti disekolah.

disekolah ternyata gue juga ngga bisa belajar yang lama sama venna karena keburu bel masuk, akhirnya gue minjem catetan venna selama dua jam pelajaran abis itu dibalikin.

jam fisika dimulai, sistemnya kita ngerjain soal sesuai kartu yang nanti kita ambil, kalo dapet joker kita bisa bebas milih soal. pak rudi udah ngacak ngacak tanggal aja tuh, pertama kali yang dia sebut adalah bulan ini yang berarti bulan kedua, akbar alias cepi dipanggil. pak rudi masih nyari pasangan buat cepi, dia mulai main tanggal, karena tanggal satu, gue fikir kiki yang bakalan disuruh maju, tapi ternyata engga, pak rudi bilang 21, mampus ! itu absen gue !! anak anak sekelas langsung pada ngeledekin, dan gue deg degan banget, bukan deg degan diledekin, tapi gue belum siap, dan itu sumpah gue ngga kepikiran apapun ! pak rudi nyuruh maju, majulah gue sama cepi, cepi ngambil kartu, dia dapet lima hati, dia disuruh ngerjain ujikompetensi nomer sebelas. gue ngambil kartu, kata pak rudi ambil yang paling atas aja, yaudah gue pasrah, gue ngambil, dan ALHAMDULILLAH ! GUE DAPET JOKER !! anak anak langsung pada rame. ya Allah sumpah itu gue seneng banget, Allah emang selalu ngasih jalan terus deh dari kemaren. gue inget inget lagi tuh apa aja yang udah gue kerjain, akhirnya gue milih soal lks uji kompetensi nomer lima. pas duduk si dyna langsung bilang gini " sumpah ya sy tangan lo tuh emang beneran berkah banget " terus dia sampe minta berkah dari tangan gue. ya ampun berasa punya aliran sesat gue, udah kalo minta apa apa gue yang disuruh doa. pas gue mulai nyalin soal gue liat lagi ternyata soal nomer sebelas sama lima sama, jadilah gue diledek ledekin lagi, udah ah bubar -_-

sekali lagi akibat nangis semalem, kepala gue rasanya pusing banget, berat banget, pengen buru buru pulang trus tidur, tapi ada les fisika. ketemu mira, katanya ngga jadi les, alhamdulillah.oh iya tapi gue kelupaan sesuatu, ngasih kue ulang tahun ke ika ! tadinya mau ngasih surprise, eh tapi ikanya udah kegeeran duluan, jadinya ngga jadi deh, dan seumur umur ya gue baru tau ada namanya orang ngasih kue ulang tahun sama kardus + plastiknya, yang ulang tahun suruh buka sendiri, masang lilin sendiri, nyalain lilin sendiri, dan nyanyi sendiri, ahaha lagian sih lo ka ngga asik :p

mira-firda-awal-insy-mega

mega-ika

ika-awal

firda-ika

insy-ika

happy birthday yaa chairmate and classmate gue yang udah bersama gue selama tiga tahun, maaf kalo selama ini gue ngeselin karena emang itulah gue, hehe. semoga mendapat ridho dari Allah dan segala yang di indinkan bisa terkabul, aamiin :)

Keteteran Tugas-tugas

Diposting oleh INSYYYYY di 16.53 0 komentar
Hola readers, lama tak jumpah yah *lebay dikit
gue bingung harus mulai cerita darimana, karena emang banyak banget yang pengen diceritain, okelah diruntut dari hari senin aja yah karena minggu gue sibuk ngerjain fisika sampe jam sepuluh malem -_-

senin kayaknya kehidupan gue datar aja, cuma tugas tugas nih yang bikin hidup gue tambah suram. ada tugas bikin power point bahasa inggris sama agama. akhirnya gue lebih memilih untuk mengerjakan tugas agama dulu karena emang belum disentuh sama sekali, sedangkan bahasa inggris udah 60% lah. gue ngerjain dari jam lima sore sampe jam sembilan malem, gue baru sadar kalo gue belum ngerapihin bahasa inggris, padahal buat ditampilin besok. akhirnya gue nyari nyari background dan masang masangin sampe jam sepuluhanlah gue udah capek banget dan langsung tidur.

besoknya disekolah, ebeth nanyain udah gue kerjain apa belum designnya, dan gue bilang udah karena emang udah, tapi gue inget inget lagi kayaknya semalem ngga gue masukin flashdisk deh, yaudah gue bilang sama ebeth kalo gue ngga bawa dan untungnya hari itu cuma baru tiga kelompok doang yang presentasi, dan gue alhamdulillah kelompok enam.

pas dirumah gue cek lagi ternyata data yang semalem udah gue masukin ke flashdisk, ya Allah tau gitu tadi langsung nyelesain disekolah. karena gue ngga punya copy-an editan yang tadi, gue minta ke ebeth, tapi ngga dibales bales dan ngga dikirim kirim sama ebeth, akhirnya gue ngedit seadanya aja.

hari selasa gue fikir udah ada 98%, tapi ternyata masih 70%. hari itu gue berdoa banget supaya gue majunya hari jumat. tapi ternyata yang harusnya gue maju ke tiga jadi maju kedua karena kelompok lima katanya ada yang ngga masuk dan mereka bisa mundur. dan DEMI APA?? kita belum siap sama sekali, masih berantakan pake banget ! ya Allah, disitu tuh kita kita udah pada hopeless banget, panik, deg degan, takut, segala macem deh, sampe kita tuh nyuruh reta buat nanya ke kelompok empat biar presentasi kelompok empat lama dan kita masih ada waktu buat bikin lagi. kelompok empat udah ngejawab pertanyaan tuh, kita makin panik aja, gue, angga, dhifa, kiki, sama reta udah ngga karuan kayak apa tampangnya, mana laptopnya angga sempet ngehang lagi, itu sumpah, ah, rasanya tuh kayak bukan naik paus akrobatis, ngga nembus lagit berlapis lapis, dan menuju rasi bintang paling ngga manis ! gue sama angga ngga berenti berentinya berdoa nyebut nama Allah, dan emang mukjizat banget, kelas gue langsung mati listrik ! #clap disitu gue, angga sama yang lainnya jujur girang banget, kata reta " serasa keluar dari kandang singa " yap bener ! kita udah seneng banget tuh kalo kita bakal presentasi hari jumat, tapi bukan mam indah namanya kalo ngga punya alternatif lain. akhirnya kita semua digiring ke mulmed, dan yak, kita kembali panik !
" pake kondon ngga ? "
" udah pake aja "
" yah delapan belas menit lagi, lama banget "
" yaudah sambil jalan aja ke mulmed, lama lamain, kan pasti mam nya nungguin kita "

sampe mulmed, ternyata masih lima belas menit lagi, akhirnya gue nyari nyari alasan ke mam indah " mam, nunggu kiki ngambil speaker dulu ya mam " karena mam indah yang terlalu baik, beliau mengiyakan aja, dan ebeth nyuruh gue jegat kiki didepan. ternyata bener aja, kiki udah sampe didepan sama okti sama mega bawa speaker, tapi gue tahan dulu, dan emang mega sama okti juga mau ke kamar mandi. udah nunggu lama, mega sama okti ngga balik balik
" jangan jangan dia langsung masuk ke kelas lagi "
" iya, kan lo tau sendiri mereka gimana, yaudah yuk kita ke dalem aja "
" eh jangan, kan belum selesai "
" ya tapi masa ngambil speaker lama banget, nanti mam nya curiga "
yaudah kita berdua masuk, tapi sebelumnya didepan pintu ketemu sama ebeth, dan bener aja kan kondonnya belum selesai, tapi kiki maksa masuk dan kita akhirnya masuk. oketi sama mega ternyata belum balik, alhamdulillah masih ada alesan lagi. okti sama mega udah balik, kondon masih lima menit lagi, alesan apa lagi ? akhirnya ebeth bilang ke mam nya lima menit lagi, oke mamnya ngasih waktu. ngga lama listrik di mulmed tiba tiba mati. itu sumpah alhamdulillah banget deh, kayaknya ini tuh jalan Allah banget buat mudahin kita. kondon tinggal satu menit lagi, lampu tiba tiba nyala sendiri, ngga diapa apain, ngga manggil pak agung juga, tapi kita tetep masih berdoa dan YES ! ALHAMDULILLAH kondon selesai, kita presentasi, reta nyanyi, itu alhamdulillah banget, semoga aja ada nilai plusnya, makasih ya Allah, makasih bangeeeeetttt

My Pet

Feed them by clicking the surface of the water

TWITTER

CHAT-BOX

 

My Diary Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting